BAHTERA DAKWAH SALAFIYYAH DI LAUTAN INDONESIA

1 07 2009

Disusun Oleh :

Muhammad Arifin Badri, Lc, MA

Alumni S-2 Universitas Islam Madinah, KSA

dan Mahasiswa S-3 Universitas Islam Madinah, KSA

Alhamdulillah, Washsholatu wasallamu `alaa asyrofil anbiyaai nabiyyinaa

muhammadin wa `alaa aalihi wa ashhaabihi …

Adalah sikap yang bijak dalam segala urusan, bila kita selalu mengevaluasi

setiap perbuatan dan sikap yang pernah kita lakukan, guna mengembangkan

keberhasilan dan meluruskan kesalahan, sehingga hari-hari kita selalu

bertambah baik, bila dibanding hari-hari sebelumnya. Dan pada kesempatan

ini, saya mengajak semua orang yang berkepentingan dengan dakwah

salafiyyah di Indonesia untuk sedikit menoleh kebelakang, guna menilik

kembali, lalu mengevaluasi perjalanan dakwah islamiyyah ini.

Umar bin Khaththab pernah berkata :

Artinya : bermuhasabahlah (intropeksi dirilah) sebelum kalian dihisab. ( HR. At

Tirmidzi dan Ibnu Syaibah ). Hal ini saya anggap penting dan sangat mendesak

untuk bersama-sama kita lakukan, karena saya merasa, dan setiap orang

telah merasakan adanya berbagai aral dan berbagai badai yang sedang

menerpa bahtera dakwah ini.

Bahkan pada akhir-akhir ini semakin banyak badai dan ombak yang menerpa,

bila tidak segera diluruskan laju bahtera ini, saya takut akan oleng dan

tenggelam.

Sungguh indah dan tepat sekali permisalan yang telah diberikan oleh

Rasulullah b bahtera dakwah ini.. tatkala beliau bersabda :

Artinya : Permisalan orang-orang yang menegakkan batasan-batasan ( syariat )

allah dan orang-orang yang melanggarnya, bagaikan suatu kaum yang berbagibagi

tempat di sebuah kapal / ahtera, sehingga sebagian dari mereka ada yang

mendapatkan bagian atas kapal tersebut, dan sebagian lainnya mendapatkan

bagian bawahnya, sehingga yang berada dibagian bawah kapal bila mengambil

air, maka pasti melewati orang-orang yang berada diatas mereka, kemudian

mereka berkata : seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya

kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada diatas kita. Nah apabila

mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginnanya,

niscaya mereka semua akan binasa, dan bila mereka mencegah orang-orang

tersebut, niscaya mereka telah menyelamatkan orang-orang tersebut, dan

mereka semuapun akan selamat. ( HR Bukhori ).

Bila kita amati dan renungkan realita dakwah salaf di negri kita, kita akan

melihat adanya berbagai kekurangan yang mesti dibenahi, dan menurut hemat

saya, ada enam permasalahan yang sepatutnya kita pikirkan bersama,

kemudian kita bersama-sama mencarikan solusi baginya, keenam

permasalahan tersebut adalah :

1

1. Tidak sistematis dalam belajar dan mengajar

2. Sikap tidak jujur terhadap diri ssendiri

3. Kedudukan uang transport bagi seorang da’i.

4. Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliranaliran)

yang berseberangan dengan Ahlus sunnah wal jama’ah.

5. Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan

argumentasi lawan.

6. Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan

para ulama’.

Untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan keenam permasalahan tersebut satu

demi satu :

Tidak sistematis dalam belajar dan mengajar Bila kita membaca nasehatnasehat

para ulama’ -baik ulama’- terdahulu maupun ulama’ zaman sekarangdalam

perihal menuntut ilmu, maka kita akan dapatkan mereka

menganjurkan kita untuk memulai mempelajari ilmu-ilmu yang paling

penting, kemudian yang penting, dan kemudian yang kurang penting dan

seterusnya,. Sehingga setiap orang yang ingin berhasil dalam menuntut ilmu,

maka dengan ilmu itulah ia memulai belajar.

Dan setelah ia mengetahui ilmu yang paling penting, lalu iapun harus bisa

memilah-milah pembahasan-pembahasan ilmu tersebut, sehingga ia harus

mendahulukan hal-hal prinsip dalam ilmu tersebut, sebelum ia mempelajari

hal-hal lainnya.

Sebagai contoh: Ilmu yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim,

adalah ilmu tauhid, maka ilmu inilah yang pertama kita pelajari. Dan ketika

kita hendak memulai belajar ilmu tauhid, maka kita harus tahu, dari bagian

ilmu tauhid yang mana kita harus memulai ? Apakah kita mulai dari

mempelajari permasalahan tauhid uluhiyah, ataukah tauhid rububiyyah, atau

tauhid asma’ wa shifat ? Mungkin ada yang berkata : Bagaimana, saya bisa

melakukan hal ini, sedangkan saya adalah pemula atau orang awam, yang

belum tahu apa-apa ?

Nah…inilah sumber permasalahan yang ingin saya tekankan. Sebagai tholibul

ilmi pemula, terlebih-lebih masyarakat awam , tentunya ia tidak akan mampu

melakukan hal ini sendiri, oleh karena itu, disini datanglah peran para

asatidzah dan du’at, mereka dituntut untuk mengarahkan dan membimbing

murid-murid mereka, masing-masing disesuaikan dengan kemampuannya.

Nah…kewajiban inilah yang saya rasa telah banyak dilalaikan oleh para

asatidzah dan du’at-du’at kita, sehingga terjadilah kekacauan, dan berbagai

fitnah dimasyarakat.

Artinya : Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang

mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya

didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan

Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdady dalam

kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).

2

Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah

(test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami’ah Al Islamiyyah),

berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu

beberapa asatidzah -termasuk saya sendiri- menghubungi beberapa syekh

yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna memohon agar

sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian

menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada

kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :”Syekh

Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil” (Penulis buku Manhaj dan Aqidah

Imam Syafi’iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’I), dan ketika beliau

sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest /

menguji ke-50 thullab, satu demi satu. Dan diantara pertanyaan yang beliau

lontarkan kepada mereka :”Sebutkan rukun-rukun sholat?”

Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil

memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan

ada salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk menjawab, dan

berkata: “Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya”.

Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : “Siapakah yang

lebih kafir, ahlul bid’ah ataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong

orang tersebut berkata : Ahlul bid’ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala

syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau

terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan

ini dan berkata: “Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!,

Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!.

Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang

ustadz yang berceramah dan berkata : “Sesungguhnya Syekh Muhammad bin

Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin,

sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit”.

Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah

pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa

yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ah banyak dari mereka tidak

sampai kepada kekufuran ?!?!?!

Contoh lain : Beberapa saat lalu, ramai terjadi fitnah antara masyarakat

dengan syabab yang telah kenal pengajian salaf, dalam masalah beradzan

diluar masjid, iqomah tanpa menggunakan pengeras suara, menentukan

waktu-waktu shalat dengan menggunakan matahari, mengenakan pakaian

gamis dilingkungan yang tidak kenal gamis, seperti di kampus, dll.

Contoh lain : Setiap kali sampai ke Indonesia sebuah kitab baru, terutama

yang ditulis oleh ulama’-ulama’ zaman sekarang, seperti Syekh Rabi’ bin Hadi

Al Madkholi, Ali Hasan, Mansyur Hasan Salman, atau yang lainnya, kita

langsung ramai-ramai membacakan kitab tersebut, dan marak diadakan

dauroh-dauroh membahas kitab tersebut, dan tatkala ada kitab baru

lagi,maka kitapun ramai-ramai pindah ke kitab tersebut, dan begitulah

seterusnya. Bukan berarti tidak dibenarkan untuk membaca kitab tersebut,

akan tetapi, sistematis dalam belaja dan mengajar harus tetap dijaga.

3

Contoh lain : Tatkala ada salah seorang dari ustadz, atau da’i yang sedang

ditahdzir, maka disetiap kota, dan setiapa majlis, pembicaraan dan materi

kajiannyapun berhubungan dengan ustadz tersebut, baik yang pro ataupun

kontra, sibuk dengan isu seputar permasalahan tersebut, dan melalaikan

ilmu.

Sikap yang tidak punya pendirian ini, bagaikan buih lautan yang diombangambingkan

oleh angin, kemana angin berhembus, maka kesanalah buih

menuju. Oleh karena itu tidak heran kalau keilmuan yang terbentuk dari cara

pedidikan dan dakwah seperti ini, tidak kokoh sebagaimana lemahnya buih

lautan yang tidak pernah tetap pada sebuah pendirian

Sebagai wujud lain dari permasalahan ini adalah : Sering kali kita merasa

cukup dengan hanya mengenal nama sebuah istilah, walaupun tidak

mengenal hakikat.

Para ulama telah banyak menjelaskan, bahwa setiap nama dalam syariat islam

ini, adalah merupakan istilah syar’i, sehingga defiinisi dan maknanyapun

harus dipahami sesuai dengan yang dikehendaki dalam syariat islam, tidak

cukup untuk dipahami secara bahasa Sebagai contoh : kata “sholat” secara

bahasa kata ini bermakna “doa”, akan tetapi dalam syariat kata tersebut

memiliki definisi lain, sehingga kalau kita membaca ayat atau hadits yang

menyebutkan kata “sholat”, maka kita fahami secara istilah syariat, bukan

secara bahasa. Begitu juga halnya dengan istilah -istilah syariat lainnya,

kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dari kata

“sholat” disitu adalah makna secara bahasa, bukan secara syariat.

Nah…sampai saat ini, kita telah banyak mengenai dan tahu berbagai istilah

dalam syariat, akan tetapi yang menjadi permasalahan, apakah kita sudah

mengenal makna istilah tersebut secara syariat, sebagaimana kita mengenal

definisi kata “sholat”, lengkap dengan mengenal syarat, rukun, wajibat, dan

sunnah-sunnahnya?. Untuk lebih jelasnya, kita kenal kata “tasyabbuh”,

apakah kita sudah mengetahui tentang makna kata ini dengan benar, syaratsyarat,

rukun-rukun, dan hukumnya ? atau kita baru tahu namanya saja ?

Sebagai bukti, mari kita renungkan bersama hadits berikut ini :

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata : “Tatkala

Rasulullah b hendak menuliskan surat ke romawi, (para sahabat berkata

kepada beliau) : Sesungguhnya orang-orang romawi tidak mau membaca surat,

kecuali bila berstempel. Maka Rasulullah b membuat stempel dari perak”. (HR

Bukhori dan Muslim)

Bukankah Rasulullah b dalam kisah ini meniru kebiasaan orang-orang

kafir? Bukankah ini tasyabbuh ? Ini menunjukkan bahwa tidak semua

perbuatan yang menyerupai orang kafir, atau ahli bid’ah diharamkan, akan

tetapi ada beberapa kriteria /syarat yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Perbuatan tersebut merupakan ciri khas mereka.

2. Perbuatan tersebut tidak mendatangkan manfaat.

4

3. Adanya niat meniru, berdasarkan hadits ( Innal a’malu binniyaati /

sesungguhnya setiap amalan disertai dengan niat…)

Sebagai contoh lain : Kita semua tahu, bahwa mobil, pesawat terbang,

berbagai peralatan telekomunikasi yang ada pada zaman kita ini, adalah

dibuat oleh orang-orang kafir, tapi kenapa tidak satu orangpun yang

mengharamkannya hal-hal tersebut dengan alasan tasyabbuh?

Yang lebih memilukan adalah nasib istilah “manhaj salaf”, betapa sering kita

mengaku bahwa kita bermanhaj salaf, mengikuti manhaj salaf, dan berdakwah

sesuai dengan manhaj salaf, tapi mari kita jujur, dan balik bertanya kepada

diri sendiri, apa sebenarnya yang dimaksud dengan manhaj salaf, bagaimana

rumusannya, permasalahan apa saja yang tergolong dalam manhaj salaf,

sejauh mana kita telah kenal atau menguasai atau memahami manhaj

salaf…dst?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang -menurut hemat saya- sampai saat

ini di negri kita Indonesia, belum mendapatkan jawaban dan penjelasan yang

semestinya. Oleh karena itu, setiap kali kita mengenal atau mendengar sebuah

nama atau istilah dalam syariat ini, hendaknya kita jangan merasa puas,

sebelum mengenal dan memahami segala permasalahan yang berhubungan

dengan istilah tersebut. Dengan cara kita tanyakan kepada para `ulama atau

kita baca kitab-kitab yang menjelaskan istilah tersebut hingga tuntas.

Sebagai wujud lain dari permasalahan pertama ini:adalah sikap meremehkan

peranan kaedah-kaedah dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam berbagai

ilmu syariat.

Pada akhir-akhir ini, saya mulai mendengar ungkapan-ungkapan yang

menyeru agar kita tidak menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu ushul

fiqh, qowaid fiqhiyyah dan tidak perlu mempermasalahkan pembagian suatu

ibadah menjadi: rukun, syarat, wajib, dan sunnah. Mereka berkata : “Yang

penting bagi kita adalah mengetahui, bahwa amalan tersebut diamalkan oleh

Rasulullah b, maka kita amalkan, tidak perlu tahu, apakah hal tersebut

merupakan syarat, rukun, atau wajib, atau sunnah dalam suatu sebuah

ibadah.

Yang lebih menyedihkan lagi, bila hal ini diucapkan oleh orang yang mengaku

dirinya bermanhaj salafy, lebih menyedihkan lagi kalau orang tersebut adalah

seorang yang dipanggil ustadz, dan sangat lebih memilukan lagi bila ternyata

yang mengucapkan itu adalah seorang yang menyandang gelar (Lc) yang ia

peroleh dari Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Munawwarah.

Para ulama semenjak zaman dahulu kala mengatakan : Artinya : Barangsiapa

yang tidak memperoleh hal-hal yangh prinsip, maka dia tidak akan mencapai

ilmu.

Pada kesempatan ini, saya ingin bertanya kepada orang-orang yang

mengatakan ungkapan ini : “Ulama manakah, dan siapakah namanya, yang

berhasil menjadi ulma’, tanpa mempelajari ilmu-ilmu tersebut?”

5

Pada mulanya, saya merasa keheranan mendengar ungkapan ini, tapi setelah

saya pikirkan, kemudian saya cocokkan dengan keadaan orang-orang

tersebut, rasa heran saya menjadi sirna, hal ini dikarenakan saya

berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut, rasa heran saya menjadi sirna,

hal ini dikarenakan saya berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut hanya

ingin menutupi ketidak pahamannya tentang ilmu-ilmu tersebut.

Untuk sedikit memberikan gambaran akan pentingnya mengetahui ilmu-ilmu

tersebut, dan pembagian suatu ibadah menjadi syarat, rukun, wajib, dan

sunnah, berikut ini akan saya jelaskan satu hal yang tidak asing bagi kita

semua.

Ahlis sunnah wal jama’ah telah sepakat dalam mendefinisikan “iman”, bahwa

iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan amalan dengan anggota badan.

Dan merekapun telah sepakat, bahwa barangsiapa yang mengingkari sesuatu

yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan agama, apabila ilmu

tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya wajibnya sholat lima

waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, dll, maka dihukumitelah kafir,

keluar dari agama islam, walaupun ia masih tetap menjalankan sholat, puasa,

mandi janabah dll.

Imam An Nawawi berkata : “Adapun pada saat ini, sungguh agama Islam telah

menyebar, dan telah merata dikalangan kaum muslimin ilmu tentang

kewajiban membayar zakat, sehingga diketahui oleh setiap orang khusus dan

orang awam, ulama dan orang bodohpun sama-sama mengetahuinya, maka

tidak diberikan uzur bagi siapapun, karena sebuah alasan yang ia pegangi,

untuk mengingkari kewajiban zakat. Begitu juga halnya dengan orang yang

mengingkari sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan

agama, apabila ilmu tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya sholat

lima waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, haramnya zina, khomer,

menikahi mahram. Dan hukum-hukum yang serup, kecuali orang yang baru

masuk Islam, dan tidak mengetahui norma-norma agama islam, maka bila

orang seperti ini mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut, karena

kebodohannya tentang hal tersebut, ia tidak kafir.” ( Syarah Shohih Muslim

1/250 )

Ibnu Taimiyyah berkata : “Sesungguhnya beriman dengan wajibnya kewajiban

kewajiban yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang, dan

diharamkannya hal-hal yang diharamkan yang telah jelas dan diketahui oleh

setiap orang adalah salah satu prinsip keimanan yang paling agung dan salah

satu dari kaedah-kaedah agama Islam, dan orang yang mengingkarinya telah

disepakati akan kekafirannya”. (Majmu’ Fatawa 12/496).

Oleh karena itu, orang yang menjalankan sholat-misalnya-, dengan sempurna,

akan tetapi ia tidak menyakini bahwa takbiratul ihram adalah rukun, maka

sholatnya tidak syah, walaupun ia tetap bertakbiratul ihram. Dan barangsiapa

yang tidak meyakini wajibnya berwudhu sebelum sahalat, maka sholatnya

tidak syah, walaupun ia telah berwudhu sebelumsholat. Inilah salah satu

wujud nyata dari definisi iman menurut Ahlis Sunnah Wal Jama’ah. Untuk

lebih jelas lagi. ilahkan baca buku-buku fiqih yang yang menjelaskan syaratsyarat,

rukun-rukun, dan wajib-wajib sholat.

6

Sikap tidak jujur terhadap diri sendiri

Rasulullah b bersabda : Artinya : Tidaklah salah seorang dari kalian

dikatakan telah beriman, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia

cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits ini merupakan barometer keimanan setiap muslim, dan merupakan

pedoman dan prinsip yang seharusnya dipegangi oleh setiap muslim dalam

bergaul dan bermasyarakat, yaitu : sebelum kita mengucapkan perkataan atau

bersilap kepada saudara kita, hendaknya kita selalu bertanya kepada hati

nurani kita sendiri “apakah saya suka bila diperlakukan dengan perlakuan

yang akan saya lakukan ini?”

Bila jawabannya adalah “Ya, saya suka”, maka silahkan untuk dilakukan, dan

bila ternyata jawabannya adalah “Tidak”, maka jangan lakukan hal tersebut.

Betapa indahnya pedoman dan prinsip yang beliau ajarkan kepada ummatnya.

Seandainya para da’i, dan ustadz yang ada di negri kita, -terutama mereka

yang mengaku bermanhaj salaf-mengamalkan prinsip ini, saya yakin, banyak

permasalahan yang akan hilang dan sirna dengan sendirinya.

Akan tetapi kenyataan yang ada sangatlah jauh dari apa yang diharapkan.

Sebagai contoh : Yayasan “AL HARAMAIN” yang ada dikota Riyadh, dalam

beberapa periode memberikan sumbangan kepada setiap mahasiswa yang

lulus dari Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah -tanpa terkecuali-, sumbangan

berupa uang. Dan hal ini berjalan beberapa tahun silam, dimulai pada

kelulusan periode 1420-1421, dan beberapa periode selanjutnya. Besarnya

sumbangan tersebut dari tahun ke tahun, berbeda-beda, kadang 1000 reyal,

dan kadang 500 reyal.

Nah…Sekarang saya yakin, para pembaca pasti langsung bertanya, dan

berkata, kalo demikian… alumni jami’ah yang sekarang sudah malang

melintang berdakwah, menyerukan kepada manhaj salaf, dan mentahdzir

setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al Haramain, juga menerima

sumbangan tersebut ???!!

Maka jawaban pertanyaan ini -dan saya tahu sendiri- adalah : “Ya, mereka

menerima itu semua dengan kedua tangan terbuka, dan tanpa sedikit ada

keragu-raguan”.

Pada beberapa tahun silam, ada dua orang alumni jami’ah -yang sekarang ini

dengan lantang mentahdzir setiap orang yang menerima sumbangan dari

Yayasan Al Haramain- setelah menerima sumbangan sebesar: 1.000,- Reyal,

mereka ditanya oleh salah seorang kawan : Kenapa kok mau menerima

sumbangan tersebut, bukankah itu dari Al Haramain?, keduanya dengan

sangat lugu berkata : “Lho…kami tidak tahu kalo itu dari Al Haramain”.

Tentu kita tidak akan begitu mudah percaya, karena sumbangan macam ini

sudah berjalan beberapa periode sebelumnya.

7

Dan yang mengherankan pula, setelah keduanya tahu, bahwa sumbangan itu

berasal dari Al Haramain, keduanya tetap dengan erat-erat mengantongi

sumbangan tersebut, dengan harapan jangan sampai ada satu reyal-pun yang

jatuh dari sakunya.

Contoh lain : Pada 9 tahun silam, mahasiswa salafiyyin Indonesia di Al

Jami’ah Al Islamiyyah , mengukirkan sebuah sejarah baru dalam hal

pengiriman kitab ke negara mereka Indonesia, yaitu dengan dikirimkan secara

kolektif dengan menggunakan kontainer ini adalah awal pengiriman kitab

dengan cara ini di Al Jami’ah Al Islamiyyah ). Pengiriman tersebut didanai oleh

Yayasan IHYA `UT TUROTS yang bermarkaskan di negara Kuwait.

Pada kesempatan ini saya ingin bertanya kepada para alumni Al Jami’ah Al

Islamiyyah yang telah malang melintang di medan dakwah, dan mentahdzir

setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al Haramain dan Yayasan

Ihya `ut Turots : “Kenapa, masing-masing antum tidak mentahdzir diri antum;

karena telah menerima sumbangan dari Al Haramain dan Ihya’ut Turots ??

Apakah Al Haramain & Ihya’ at Turots menjadi yayasan salafy, bila yang

menerima sumbangan adalah antum sendiri, dan menjadi yayasan kholafy /

surury, bila yang menerima adalah anak-anak yatim, atau orang selain

antum??!. Ataukah barometer salafy antum yang berwarna-warni?”

Contoh lain : Tatkala hangat permasalahan jihad di pulau Maluku, ada salah

seorang ustadz besar yang memberanikan diri melayangkan surat untuk

bertanya akan hukum hal ini kepada Syekh Muhammad bin Sholeh Al

Utsaimin rahimahullah, dan tatkala jawaban beliau tidak sesuai dengan apa

yang diharapkan, maka fatwa syekh tersebut, lenyap entah kemana…., Saya

tidak tahu, apakah fatwa tersebut telah ditelan bumi, atau ditelan ambisi.

Oleh karena itu -menurut hemat saya- menumbuhkan rasa malu pada diri

sendiri adalah penting perannya dalam kehidupan seorang muslim.

Diriwayatkan dari sahabat An Nawwas bin Sam’an, beliau berkata: Aku pernah

bertanya kepada Rasulullah b tentang Al Bir (perbuatan baik) dan Al Itsm

(perbuatan dosa), maka beliau bersabda:”Al Birru adalah akhlaq / budi pekerti

yang baik, dan Al Itsmu adalah segala yang engkau merasakan adanya

kejanggalan dan keragu-raguan dalam dadamu (hatimu), dan engkau merasa

tidak suka bila diketahui oleh orang lain. (HR. Muslim)

Kedudukan uang transportasi bagi seorang da’i

Pada permasalahan ini, kita dihadapkan kepada sebuah tradisi dan budaya

yang bersenggolan dengan prinsip paling besar dalam agama Islam, yaitu

keikhlasan dalam setiap aktifitas kita, prinsip hanya mengharapkan balasan

bagi segala amalan kita hanya darri Allah Ta’ala. Pada kesempatan ini, saya

tidak ingin membahas tentang kewajiban ikhlas; karena hal itu sudah

diketahui bersama. Yang ingin saya serukan dalam kesempatan ini, adalah

ajakan kepada seluruh du’at dan asatidzah, agar mengkaji ulang hukum

kebiasaan yang berlaku ditengah-tengah kita, yaitu kebiasaan menerima uang

transportasi.

8

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang hukumnya, mari kita koreksi,

apakah uang transportasi yang kita terima, setelah kita memberikan

pengajian/ceramah/dauroh dll, benar-benar uang transportasi? Ataukah uang

transportasi? Ataukah uang transportasi yang telah digelembungkan berlipat

ganda, dan menurut yang saya ketahui- alternatif inilah yang terjadi,

transportasi inilah yang terjadi, transportasi pulang pergi yang seharusnya

hanya misalnya Rp. 50.000,- akan tetapi amplop yang diterima berisikanminimal

Rp. 100.000,-

Hal kedua yang harus kita kaji ulang adalah hukum menerima uang tersebut,

sebab para ulama’ semenjak dahulu kala sudah berbeda pendapat dalam

menghukumi hal ini, ada yang menghalalkan, dan ada yang memakruhkan,

dan ada yang mengharamkannya, dan pendapat ketiga inilah yang dirajihkan

(dikuatkan) oleh Syekh Muhammad Nashirddin Al Albani rahimahullah.

Sebagai contoh dari kisah-kisah yang sampai kepada saya: Ada beberapa

ustadz yang Alhamdulillah telah berhasil mendirikan Pondok Pesantren, dan

Alhamdulillah pula telah memiliki santri yang cukup banyak, lebih

mementingkan untuk memenuhi undangan pengajian diluar pesantren

terlebih-lebih undangan dari luar kota dibandingkan mengajar di pesantren

yang telah ia dirikan, akibatnya santri pesantrennya sering tidak mendapatkan

pengajaran. Bahkan seringkali, Ustadz tersebut, bila sudah keluar kota untuk

berdakwah, tidaklah kembali ke pesantrenya, kecuali bila sudah kecapekan,

dan sudah mulai merasakan gejala akan jatuh sakit.

Apakah ustadz yang bertindak seperti ini, tidak ingat, bahwa kewajiban

mengajar dipesantrennya lebih besar dibanding berdakwah di luar kota?

Bukankah para santri telah walaupun sedikit membayar SPP, sehingga telah

menjadi hak mereka untuk menerima pengajaran yang telah dicanangkan oleh

pesantren?

Lalu, apakah yang memotivasi ustadz tersebut untuk keluar kota? Bukankah

keluar kota lebih melelahkan? Membutuhkan transportasi? Bukankah

kewajiban berdakwah bisa dilaksanakan tanpa itu semua? Yaitu mengajar di

pesantren yang telah ia dirikan, dan berdakwah dimasyarakat sekitar lokasi

pesantren?

Diantara kisah yang sampai kepada saya : Bahwa daerah-daerah yang

masyakatnya (orang-orang yang telah kenal dan mengikuti kajian salaf)

berperekonomian / berpenghasilan rendah / tidak memiliki donatur yang

kuat, kesusahan untuk mendatangkan ustadz yang siap mengisi pengajian di

tempat-tempat tersebut, terlebih-lebih pengajian rutin.

Diantara kisah yang pernah saya dengar : Ada seorang Ustadz (A) bermusuhan

dengan Ustadz (B), si (A) telah mentahdzir si (B), dengan berbagai alasan. Pada

suatu saat, ada salah seorang murid Ustadz (A) dikarenakan beberapa hal

menghadiri pengajian Ustadz (B) dan enggan menghadiri pengajian Ustadz (A),

maka Ustadz (A) berang seakan sedang kebakaran kumis, lalu mengatakan

bahwa Ustadz (B) telah mencuri muridnya.. Usut punya usut, ternyata

dahulunya anak murid tersebut biasanya selalu memberikan sumbangan

kepada Ustadz (A), dan setelah menghadiri pengajian Ustadz (B), ia tidak lagi

mengucurkan sumbangan tersebut.

9

Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliran-aliran)

yang bersebrangan dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Tidak mungkin kita pungkiri, bahwa banyak dari kita, sebelum mengenal

dakwah salaf, manhaj salaf, mengikuti berbagai firqoh-firqoh yang memiliki

manhaj yang bersebrangan dengan manhaj salaf. Ada dari kita yang

dahulunya seorang ikhwani, dan ada juga yang tablighi, dan ada pula yang

sufi, dan ada pula yang takfiri (hizbut tahrir), dan ada pula yang mu’tazili dll.

Hal ini adalah kenyataan yang tidak boleh kita lupakan, sebab selain agar kita

bisa selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang telah memberi hidayah kepada

kita, sehingga kenal dengan manhaj salaf, juga agar kita selalu berhati-hati,

dan selalu mengoreksi setiap pemahaman dan sikap kita, jangan sampai

pemahaman dan sikap kita yang sekarang ini, masih terpengaruh dengan

pemahaman dan kebiasaan kita semasa bergabung dengan firqoh-firqoh

tersebut.

Diantara manfaat kita mengingat kenyataan ini, kita akan bisa lebih sabar dan

bersikap lembut kepada orang yang memiliki kesalahan, karena kita akan

selalu berkata kepada diri sendiri, bahwa dahulu -karena kebodohan- saya

juga telah berbuat kesalahan. Sehingga kita akan merasa iba, dan kasihan

terhadap orang tersebut, akibatnya, kita akan lebih gigih untuk menjalankan

segala daya dan upaya agar orang tersebut bisa mendapatkan hidayah,

sebagaimana kita telah mendapatkan hidayah.

Marilah kita renungkan bersama ayat berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila engkau pergi (berperang) di jalan Allah,

maka telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang

mengucapkan “salam” kpdmu : “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu

membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia,

karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitulah keadaan kamu dahulu,

lalu Allah menganugerahkan ni’mat-Nya atas kamu, maka telitilah.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS. An Nisaa’

: 94 )

Pada ayat ini Allah melarang orang-orang Muhajirin -ketika dalam keadaan

peperangan- dari mengatakan kepada seorang musuh yang menampakkan

keislaman dengan cara mengucapkan salam kepada kaum muslimin, :

“Engkau bukanlah seoarang muslim, engkau mengucapkan salam hanya

sekedar takut dibunuh” lalu dibunuh, karena sangat dimungkinkan bahwa

orang tersebut adalah orang yang benar-benar telah masuk Islam, akan tetapi

takut untuk menampakkan keislamannya. Kemudian Allah mengingatkan

orang-orang Muhajirin akan keadaan mereka sebelum berhijrah, dimana

didapatkan dari mereka banyak orang yang telah masuk Islam, akan tetapi

takut untuk menampakkan keislamannya.

Nah…pada kesempatan ini, saya mengingatkan para da’i, dan ustadz,

bahwasannya dahulu kita seperti mereka, berbuat kesalahan, salah

pemahaman, dan rusak aqidahnya, kenapa kita tidak bersabar dan lebih

lembut mensikapi saudara kita yang memiliki kesalahan, terlebih-lebih bila

terlihat darinya ketulusan dan keseriusan dalam mencari kebenaran.

10

Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan

argumentasi lawan

Allah Ta’ala telah memberikan setiap manusia akal dan pikiran, masingmasing

kita memiliki kemampuan akal dan pikiran yang berbeda-beda, ini

adalah sebuah fakta yang kita rasakan bersama, dan harus selalu kita ingat,

tatkala kita berbicara dengan orang lain.

Ada orang yang memiliki pemahaman kuat, shg dengan mendengarkan sedikit

penjelasan, ia langsung paham dan melaksanakan hal tersebut. Akan tetapi,

ada orang yang memerlukan penjelasan dua, tiga, atau empat kali, baru akan

bisa memahami apa yang kita inhginkan. Bahkan ada orang yang tidak bisa

memahami penjelasan kita sama sekali, walaupun sudah berpuluh-puluh kali,

akan tetapi, bila ia mendengarkan penjelasan dari orang lain, dengan cara lain,

ia bisa memahami, kemudian mengamalkan apa yang kita maksudkan.

Selain itu, sebagaimana kita tidak akan menerima pendapat orang lain, kecuali

setelah terjawab berbagai pertanyaan yang ada di dalam akal pikiran, maka

begitu pulalah orang lain, tidak akan menerima pendapat kita, sampai seluruh

pertanyaan dan berbagai alasan yang ada di akal pikirannya terjawab dengan

tuntas.

Hal ini sering kita lalaikan, sehingga kita relatif memaksakan pendapat, tanpa

memperdulikan pendapat dan alasan kita.

Seringkali ketika kita beradu argumentasi, kita melupakan akan hal ini,

sehingga tatkala orang lain tidak atau blm bisa menerima pendapat kita

maka…mulailah kumis kita terbakar sedikit demi sedikit, dan akhirnya

berkobarlah api amarah, dan terlontarlah berbagai klaim, dimulai dari

klaim:”Keras kepala, aqlani, menolak hadits,…hingga vonis mubtadi'”.

Sebagai contoh : Sering kali kita mendengar ada ustadz yang mentahdzir

ustadz lain, dengan alasan, bahwa ustadz tersebut telah dinasehati, dan

tatkala diusut, ternyata yang terjadi hanyalah sebuah perdebatan yang belum

tuntas, kedua belah pihak tidak mampu untuk menjelaskan pendapatnya

dengan gamblang, dan tidak mampu menjawab argumentasi lawan dengan

gamblang pula. Atau hanya sekedar dikirimi kaset, atau buku, yang mungkin

saja belum sempat didengar atau dibaca, dan kalaupun sudah didengar dan

dibaca, belum tentu ustadz tersebut memahaminya dengan baik.

Oleh karena itu, saya mengajak para da’i, dan asatidzah untuk lebih banyak

belajar cara-cara berkomunikasi dengan orang lain, dan cara-cara

berargumentasi dan menjawab argumentasi lawan, yaitu dengan cara

11

mempelajari ilmu ushulul fiqh, mustholah hadits, qowaid fiqhiyyah dan

banyak-banyak membaca kisah perdebatan para ulama ahlis sunnah dengan

ahlul bid’ah.

Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan para ulama

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Al Qur’an dan As Sunnah

tidak mungkin bisa dipahami dan kemudian diamalkan, kecuali dengan

perantara penjelasan dan penafsiran para ulama’. Merekalah yang yang

mampu menghukumi setiap kejadian dan permasalahan sesuai dengan yang

telah digariskan dalam Al Quran dan As Sunnah.

Oleh karena itu, seorang ulama membutuhkan kepada dua jenis pemahaman,

agar fatwa dan hukum yang ia berikan benar-benar sesuai dengan Al Quran

dan As Sunnah, yaitu :

1. Pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan As Sunnah, sesuai

dengan pemahaman salafush sholih.

2. Pemahaman yang benar dan sempurna terhadap kasus dan

permasalahan yang hendak ia hukumi

Bila seorang ulama telah memiliki kedua jenis pemahaman tersebut, maka

Insya Allah fatwa dan hukum yang ia berikan akan benar, akan tetapi, bila

salah satu dari keduanya tidak ia miliki, atau terjadi kesalahpahaman

padanya, niscaya ia tidak akan bisa berfatwa dengan baik dan benar.

Ibnul Qoyyim pernah menggambarkan bahayanya seorang yang tidak memiliki

pemahaman jenis kedua, sehingga ia hanya kaku dan beku dengan apa yang

pernah ia dapatkan dalam kitab semata, beliau gambarkan kerusakan yang

akan ditimbulkan oleh orang semacam ini, bagaikan seorang yang tidak

paham ilmu kedokteran, kemudian mengaku-aku menjadi seorang dokter.

Sehingga jatuhlah korban karenanya. Bahkan menurut beliau, bahaya seorang

yang beku dan kaku dengan apa yang ia dapatkan di kitab, tanpa paham

terhadap realita yang ada pada zamannya., adalah lebih besar dibanding

dokter gadungan tersebut, karena kesalahan yang ia timbulkan ada

hubungannya dengan nasib manusia di akhirat.

Pada kesempatan kali ini, saya juga ingin mengingatkan kepada para da’i, dan

asatidzah, agar extra hati-hati bila hendak menerapkan sebuah fatwa atau

sebuah hukum, tolong dipikirkan masak-masak, apakah keadaan masyarakat

kita sesuai dan sudah sepantasnya untuk diterapkan fatwa tersebut ?

12

Sebagai contoh nyata, Ada dari kalangan ulama’ salaf yang menegaskan:

bahwa lebih baik bertetangga dengan kena kera dan babi, dibanding

bertetangga atau duduk dengan dengan ahlul bid’ah. Seharusnya sebelum

kita menerapkan hal ini, kita harus pikirkan, apakah masyarakat kita sama

dengan masyarakat ulama tersebut, masyarakat yang mayoritasnya

memahami manhaj salaf?

Contoh lain : Para ulama telah sepakat, bahwa : Barangsiapa yang

menyatakan Al quran adalah makhluk, maka ia kafir. Nah…apakah setiap

orang yang kita temui dan ternyata mengatakan perkataan tersebut, langsung

kita hukumi sebagai orang kafir??

Imam Ahmad, beliau langsung menghadapi fitnah tentang hal ini, tatkala

mengetahui bahwa Al Makmun (kholifah pada masa beliau) telah mengatakan

bahwa Al Quran adalah makhluq, bahkan sampai memaksa orang-orang yang

ada pada zamannya untuk mengatakan perkataan ini, akan tetapi Imam

Ahmad tidak mengkafirkannya. Yang lebih mengherankan lagi Imam Ahmad

malah berkata : “Seandainya aku mengetahui bahwa aku memiliki do’a yang

mustajabah (dikabulkan), pasti akan aku gunakan untuk mendoakan

pemimpin kaum muslilmin (kholifah)”.

Contoh lain : Beberapa bulan yang lalu, Syekh Muhammad bin Hadi Al

Madkholi, berkenan untuk memberikan tausiyyah (ceramah) via telpon kepada

asatidzah di Indonesia. Pada hari dan waktu yang telah disepakati, beliau

menyampaikan tausiyyahnya, dan setelah selesai, maka beliau

memperkenankan untuk dibacakan beberapa pertanyaan yang sebelumnya

telah mereka siapkan. Diantara pertanyaan yang dibacakan adalah

berhubungan dengan hukum mengajar ditempat ahlil bid’ah, maka beliau

berfatwa : “Tidak boleh mengajar ditempat ahlil bid’ah”, tentunya dengan

berbagai alasan dan dalil yang beliau utarakan.

Setelah acara tersebut selesai, fatwa tersebut langsung diterapkan oleh

beberapa gelintir ustadz, yaitu dengan menunjukkan kepada salah seorang

ustadz yang mengajar di pesantren As Salam Solo-Jateng, dan tatkala ustadz

tersebut tidak menuruti apa yang mereka inginkan, mulailah mereka

mengeluarkan senjata pemungkas, yaitu tahdzir dan hajr, bahkan bukan

hanya itu saja, ustadz tersebut juga diwajibkan untuk membubarkan TK dan

SDIT yang ia bina, dengan alasan yang sangat tidak ilmiyyah.

Tatkala saya berjumpa dengan Syekh Muhammad bin Hadi Al Madkholi, dan

saya sampaikan perilaku mereka, beliau langsung murka, dan mengatakan :

bahwa penjelasan saya tersebut, adalah hukum yang bersifat umum, tidak

boleh langsung diterapkan kepada setiap orang. Karena menerapkan hukum

kepada orang-orang tertentu, memiliki tahapan dan tatacara tersendiri.

Terlebih dari itu semua, kita harus mempertimbangkan maslahat dan

mafsadah yang akan terjadi dari sikap kita kepada ustadz tersebut.

13

Apalagi, setelah beliau mendengar perpecahan antar asatidzah yang terjadi

akhir-akhir ini, beliau semakin murka, dan berkata : Semoga Allah tidak

memasrahkan tugas dakwah ini kepada orang-orang semacam mereka.

Sikap ini -sebagaimana kita ketahui bersama- telah menjadi kebiasaan, bila

ada salah seorang ustadz yang tidak suka dengan ustadz lain, maka ustadz

pertama tadi akan mencari dukungan untuk menghantam ustadz kedua

tersebut, yaitu dengan cara menelpon salah seorang syekh, kemudian

ditanyakan kepadanya hukum suatu permasalahan, sehingga syekh tersebut

memberikan jawaban yang bersifat umum (muthlaq), sebagaimana terjadi pada

kisah yang lalu. Dan setelah ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan, ia

langsung menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang ustadz yang tidak

ia sukai, dan demikianlah selanjutnya.

Oleh karena itu para ulama telah meletakkan sebuah qaidah yang

berhubungan dengan hal penerapan hukum pada orang tertentu, atau kasus

tertentu, yaitu “Tidak dipungkiri terjadinya perubahan hukum syar’i, sesuai

dengan perubahan adat atau keadaan pada orang tersebut”.

Oleh karena itu, marilah kita benar-benar mencontoh ulama salaf dalam

berilmu, berfatwa, dan berperilaku, dan jangan sampai kita besar kepala, bak

katak dalam tempurung.

Inilah keenam permasalahan yang menurut pendapat saya, telah

menimbulkan berbagai fitnah dinegri kita. Dan akhir tulisan ini, saya ingin

menekankan, bahwa tulisan ini hanya sebatas pandangan saya, sehingga

saya siap untuk menerima kritikan atau sangkalan yang disertai dengan

alasan serta dalil, bahkan saya sangat mmengharapkan kritikan dan saran

dari kawan-kawan demi tercapainya kebenaran dan kemaslahatan dakwah

dinegri kita.

SELESAI

Ditulis ulang dari sebuah makalah 11 lembar yang berjudul “Bahtera Dakwah

Salafiyah di Lautan Indonesia” yang disusun oleh Al Akh Muhammad Arifun Badri, Lc,

MA ( Madinah ,08 Sya’ban 1424 H / 04 Okt 2003) dan disebarkan oleh “Tasjilat dan

Maktabah Ibnu Taimiyah” Jl. Kresna No. 24, Pulosari Rt. 02 / Rw. 04 Kelurahan

Gayam, Kec/Kab. Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

14

Sebuah Tanggapan :

Bisa sebagai bahan perenungan penulis “Bahtera Dakwah Salafiyyah di Lautan

Indonesia”

MUTIARA NASEHAT SYAIKH ALBANY TERHADAP THOLABUL ‘ILM

“Aku nasehatkan untuk saya pribadi khususnya dan untuk saudara

saudaraku kaum muslimin pada umumnya agar bertaqwa kepada Allah.

Diantara bagian-bagian taqwa yang akan aku nasehatkan adalah :

Pertama, Hendaklah kalian menuntut ilmu syar’i dengan ikhlash karena Allah,

janganlah ada tujuan-tujuan yang lain seperti mengharapkan sesuatu balasan,

ucapan terima kasih atau senang tampil di muka umum.

Kedua, diantara penyakit yang menimpa para penuntut ilmu syar’i adalah ujub

dan lupa daratan, dia merasa sudah memiliki ilmu cukup sehingga berani

berpendapat sendiri tanpa mengambil bantuan dan penjelasan ulama’ salaf.

Sebagaimana mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan

taufiq kepada mereka, berupa ilmu yang benar dan adab-adabnya, bahkan

mereka tertipu dengan diri mereka sendiri dan mereka menyangka bahwa

mereka telah memiliki kemapanan ilmu sehingga muncul dari mereka pendapatpendapat

yang mengguncangkan, tidak dilandasi dengan pemahaman yang

benar berlandaskan al-Kitab dan as-Sunnah.

Maka nampaklah pendapat-pendapat ini dari pemikiran-pemikiran yang tidak

matang, mereka menyangka bahwa fatwa-fatwa tersebut adalah ilmu yang

diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah. Maka, mereka sesat dengan pemikiranpemikiran

tersebut dan menyesatkan banyak manusia, dan kalian mengetahui

semuanya diantara dampak negatif dari fenomena tadi adalah munculnya

kelompok-kelompok di sebagian negeri islam mengkafirkan kelompok-kelompok

lainnya dengan alasan-alasan yang dibuat-buat, tidak bisa kami kemukakan

dalam kesempatan yang singkat ini, karena pertemuan kami ini sekarang

khusus sedang memberikan peringatan dan nasehat kepada para penuntut ilmu

dan juru da’wah, oleh karena itu saya nasehatkan saudara-saudara kami dari

ahli sunnah dan ahli hadits di seluruh negeri islam agar mereka sabar dalam

menuntut ilmu, dan agar mereka tidak tertipu dengan ilmu yang mereka miliki

sekarang. Mereka harus mengikuti jalan yang telah digariskan, jangan sekalikali

mereka bersandar dengan mengandalkan semata-mata pemahaman

mereka atau mereka beri nama dengan ijtihad mereka.

Saya sering sekali mendengar dari saudara-saudara kami mereka mengatakan

dengan sangat mudahnya, “saya berijtihad” atau “saya berpendapat demikian”

tanpa memikirkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari ucapan-ucapannya.

Mereka tidak mengambil bantuan dari kitab-kitab fiqh dan hadits serta

pemahaman ulama terhadap kitab-kitab tersebut. Yang ada hanya hawa nafsu

dan pemahaman yang dangkal dalam menggunakan dalil, sedangkan

penyebabnya adalah ujub dan lupa daratan. Oleh karena itu, sekali lagi aku

nasehatkan kepada para penuntut ilmu agar menjauhi segala akhlak yang tidak

islami, di antaranya agar mereka tidak tertipu oleh ilmu yang telah

didapatkannya serta tidak tergelincir ke dalam ujub.

15

Ketiga, terakhir, agar mereka menasehati manusia dengan cara yang lebih baik,

menjauhi cara-cara yang kasar dan keras dalam berdakwah karena Allah

Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang

baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS an-Nahl : 125)

Allah berfirman dengan ayat tadi karena kebenaran itu sendiri berat atas

manusia atau menerimanya, dan berat atas jiwa-jiwa mereka, oleh karena itu

secara umum jiwa manusia sombong untuk menerimanya, kecuali sedikit orang

yang dikehendaki Allah untuk langsung menerimanya. Apabila beratnya

kebenaran itu atas jiwa manusia ditambah dengan beratnya cara berupa

kekasaran dalam da’wah, maka itu berarti menjadikan manusia lari dari

da’wah kebenaran. Kalian tentu mengetahui sabda b:

“Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lari

(dari kebenaran). Beliau mengulanginya tiga kali. Sebagi penutup, saya

memohon kepada Allah Ta’ala agar jangan menjadikan kami sebagai orangorang

yang membuat orang lain lari dari kebenaran, akan tetapi jadikanlah

kami sebagai orang-orang yang memiliki hikmah dan orang-orang yang

mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

sumber :mailist Assunnah. yahoogroups

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: